![]()
Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, M.A.
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa melimpahkan nikmat-Nya, dari nikmat iman, Islam, hingga nikmat dipertemukan dengan waktu-waktu yang dimuliakan. Di tengah berbagai ujian dan cobaan yang Allah berikan, termasuk musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Tanah Air, Allah masih menganugerahkan kita nikmat sehat, keamanan, dan ketenteraman untuk beribadah kepada-Nya. Ini merupakan karunia terbesar yang harus disyukuri tiada henti.
Di antara nikmat agung yang sering terlalaikan adalah ketika Allah mempertemukan kita dengan “mawāsim al-khair” (musim-musim kebaikan), yaitu waktu-waktu yang secara khusus dianugerahi keutamaan oleh-Nya. Salah satunya adalah bulan Rajab yang saat ini kita masuki. Ia termasuk dalam bulan-bulan yang dimuliakan (al-asyhur al-hurum), sebagaimana firman Allah:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ
“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam (bulan-bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Memahami Makna ‘Arba’atun Hurum’
Ayat di atas menegaskan bahwa sistem dua belas bulan dalam setahun adalah ketetapan ilahi sejak penciptaan langit dan bumi. Empat bulan di antaranya memiliki status ‘hurum’ (mulia/terhormat). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan secara rinci bulan-bulan tersebut dalam sabdanya:
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Waktu telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Dan (satunya lagi) Rajab (suku) Mudhar yang terletak antara Jumada (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Empat bulan ini dimuliakan sejak zaman jahiliyah dan Islam pun mengukuhkannya. Dinamakan ‘asyhurul hurum’ karena pada bulan-bulan ini, segala bentuk peperangan dan pertumpahan darah diharamkan. Dalam Islam, kemuliaan ini ditingkatkan dengan penekanan khusus untuk menjauhi segala bentuk kezhaliman dan maksiat, serta dorongan untuk memperbanyak amal shaleh.
Larangan Khusus: “Maka Janganlah Kamu Menzhalimi Diri Kamu…”
Peringatan Allah, “fa laa7 tazhlimuu fiihinna anfusakum” (maka janganlah kamu menzhalimi dirimu di dalamnya), menjadi pesan inti saat memasuki bulan-bulan haram, termasuk Rajab. Larangan ini memiliki makna yang sangat dalam:
- Penekanan Khusus: Larangan berbuat zhalim selalu berlaku di semua waktu. Namun, penyebutannya secara khusus setelah penyebutan keutamaan bulan haram menunjukkan bahwa berbuat dosa dan maksiat di bulan-bulan ini memiliki konsekuensi dan dosa yang lebih besar. Sebagaimana keutamaan suatu tempat (seperti Masjidil Haram) melipatgandakan pahala, ia juga melipatgandakan dosa jika dilakukan kezhaliman di dalamnya.
- Cakupan Kezhaliman yang Luas: Kezhaliman (zhulm) mencakup semua bentuk penyimpangan:
A. Syirik (Zhalim kepada Allah): Ini adalah kezhaliman terbesar. Allah berfirman: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).
B. Maksiat (Zhalim kepada Diri Sendiri): Setiap dosa yang dilakukan seorang hamba pada hakikatnya adalah menzhalimi dirinya sendiri, karena ia akan menuai akibat buruknya, baik di dunia maupun di akhirat. Bencana dan musibah yang terjadi pun seringkali Allah sebut sebagai akibat perbuatan tangan manusia: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).
C. Menzhalimi Orang Lain: Baik dengan ucapan, perbuatan, atau merampas haknya. Doa orang yang terzhalimi adalah mustajab dan akan Allah balas.
Oleh karena itu, memasuki Rajab seharusnya menyadarkan kita untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri), meningkatkan kewaspadaan terhadap dosa, dan segera bertaubat. Rajab adalah ‘syahrul istighfar’ (bulan memohon ampun). Memperbanyak istighfar adalah kunci terhindar dari bencana dan terbukanya pintu rezeki serta keberkahan, sebagaimana pesan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam kepada kaumnya.
Rajab: Masa Menanam untuk Dipanen di Ramadan
Para ulama salafush-shalih sangat antusias menyambut Rajab. Mereka mengisinya dengan peningkatan ibadah, puasa sunnah, sedekah, dan amal shaleh lainnya. Seorang ulama tabi’in, Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku sangat senang berpuasa di bulan-bulan haram.”
Ada ungkapan hikmah yang masyhur di kalangan mereka: “Isy Rajaban tar ‘Ajaban.” “Hiduplah (dengan amal shaleh) di bulan Rajab, niscaya engkau akan melihat keajaiban.” Ungkapan ini bukanlah hadits, tetapi menggambarkan keyakinan mereka tentang pengaruh positif amal shaleh yang dilakukan di bulan mulia ini.
Mereka memandang siklus ibadah layaknya bercocok tanam:
● Rajab adalah bulan menanam (syahruz zira’ah). Di sinilah kita mulai menyemai benih-benih ketaatan.
● Sya’ban adalah bulan menyirami (syahrus saqi). Di bulan ini kita merawat dan meningkatkan amalan kita.
● Ramadan adalah bulan memanen (syahrul hashad). Hasil dari usaha dan latihan di dua bulan sebelumnya akan kita peten di bulan suci Ramadan.
Orang yang tidak ‘menanam’ di Rajab, akan kesulitan ‘memetik hasil’ yang maksimal di Ramadan. Rajab adalah masa pemanasan spiritual, penyiapan diri agar ketika Ramadan tiba, kita sudah berada dalam kondisi terbaik untuk menyambutnya.
Ajakan untuk Bertindak
Maka, wahai kaum muslimin, jadikan Rajab tahun ini sebagai titik tolak perubahan:
- Perbanyak Istighfar dan Taubat: Jauhi semua bentuk kezhaliman, baik kepada Allah, diri sendiri, maupun sesama.
- Tingkatkan Amal Shaleh: Perbanyak puasa sunnah (terutama Senin-Kamis), tilawah Al-Qur’an, shalat malam, sedekah, dan silaturahim.
- Berdoalah: Mohon kepada Allah agar diberi keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban, serta dipertemukan dengan Ramadan. Doa ini diajarkan oleh para salaf, meskipun haditsnya lemah, namun maknanya sangat baik.
- Ingatkan Keluarga dan Lingkungan: Sosialisasikan keutamaan bulan ini agar kebaikan menjadi kolektif. Jika seluruh elemen bangsa memahami dan menghormati kemuliaan Rajab dengan meningkatkan amal shaleh dan menjauhi kemungkaran, niscaya kita akan menyaksikan ‘ajaban (keajaiban) berupa kehidupan yang lebih baik, penuh berkah, dan terjauh dari musibah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing kita untuk memakmurkan bulan Rajab dengan ketaatan, sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang bertakwa yang layak menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Mahasuci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
