Seni Baca Al-Qur'an (Mujawwad)
Seni Baca Al-Qur’an (Mujawwad) di Pondok Pesantren Tahfizh Qur’an Yapidh 3 Sentul merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler unggulan yang dirancang untuk melengkapi kemampuan santri sebagai penghafal Al-Qur’an.
Apa Itu Seni Baca Al-Qur'an (Mujawwad)?
Berbeda dengan Murattal (bacaan tartil biasa yang datar dan fokus pada kelancaran hafalan), Mujawwad adalah seni membaca Al-Qur’an yang:
Melodius & Berirama: Menggunakan lagu-lagu atau irama (maqam/nagham) khusus yang memiliki nilai seni tinggi.
Tempo Lambat: Dibaca dengan tempo yang lebih lambat untuk memberikan ruang bagi cengkok, variasi suara, dan napas panjang.
Penghayatan Mendalam: Fokus pada ekspresi untuk menyentuh hati pendengarnya.
Standar MTQ: Gaya bacaan ini adalah standar yang digunakan dalam perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) cabang Tilawah.
Materi yang Dipelajari di Yapidh 3 Sentul
Dalam kegiatan ini, santri tidak hanya diajarkan mengaji biasa, tetapi dilatih layaknya seorang Qari profesional. Materi utamanya meliputi:
Pengenalan 7 Irama Dasar (Nagham): Santri diajarkan menguasai irama standar internasional, biasanya dimulai dari Bayati (sebagai irama induk/pembuka), kemudian Shoba, Hijaz, Nahawand, Rast, Sika, dan Jiharkah.
Teknik Vokal & Pernapasan: Melatih cara mengambil napas panjang (karena ayat sering dibaca panjang dalam satu tarikan napas), mengolah power suara, dan teknik vibra (getaran suara).
Tajwid & Fashohah: Memastikan makhraj huruf tetap sempurna meskipun sedang melagukan ayat. Keindahan lagu tidak boleh merusak hukum tajwid.
Variasi & Improvisasi: Melatih santri untuk melakukan variasi nada (naik/turun/sedang) agar bacaan tidak monoton.
Tujuan Program Mujawwad di Yapidh 3
Mencetak Qari Handal: Mempersiapkan santri untuk mewakili pesantren dalam ajang perlombaan MTQ tingkat daerah, nasional, maupun internasional.
Dakwah Melalui Seni: Menjadikan suara merdu sebagai sarana dakwah yang menarik bagi masyarakat saat santri terjun di acara-acara keagamaan (seperti menjadi pembaca Al-Qur’an di acara Maulid, Isra Mi’raj, atau pernikahan).
Menjaga “Zinah” (Perhiasan) Al-Qur’an: Sesuai hadits Nabi, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.”
Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan ini biasanya bersifat Ekstrakurikuler Pilihan (bukan wajib bagi semua, tetapi sangat dianjurkan bagi santri yang memiliki bakat suara).
Waktu: Biasanya dilaksanakan di luar jam sekolah formal atau jam halaqah tahfizh wajib (misalnya sore hari atau akhir pekan).
Metode: Talaqqi (berhadapan langsung dengan guru Qari) dan praktik menggunakan sound system agar santri terbiasa mendengar suara sendiri lewat pengeras suara.
