Isra’ dan Mi’raj, Ujian Haqqul yaqin bagi seorang Muslim

Loading

Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, M.A.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan mukjizat agung dan perjalanan spiritual luar biasa yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW. Peristiwa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT dan kebenaran risalah Nabi akhir zaman.

Allah SWT mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur’an pada dua tempat:

Pertama, dalam Surah Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

Kedua, dalam Surah An-Najm ayat 13-18:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ إِذْ يَغْشَى ٱلسِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ

“Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril dalam rupa aslinya) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 13-18)

Selain Al-Qur’an, peristiwa ini diperkuat oleh banyak hadits shahih yang diriwayatkan oleh para sahabat dalam kitab-kitab hadits utama, seperti Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Isra’ Mi’raj Sebagai Batu Ujian Keimanan

Peristiwa yang melampaui batas logika manusia ini merupakan ujian hakiki terhadap keimanan seorang Muslim. Bagi masyarakat Quraisy saat itu yang membutuhkan perjalanan berminggu-minggu untuk menuju Syam, kisah perjalanan Nabi dalam satu malam tentu terdengar mustahil. Bahkan, diceritakan bahwa beberapa orang yang baru masuk Islam menjadi murtad karena tidak mampu menerima berita ini (Lihat: Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani).

Oleh karena itu, memahami Isra’ dan Mi’raj membutuhkan “lensa keimanan” (qira’atul iman), bukan sekadar nalar. Ia mengajarkan kita untuk mengimani yang ghaib dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Ketika akal telah mencapai batasnya, maka tasbih “Subhanallah” (Mahasuci Allah) adalah respons iman yang tepat, sebagaimana pembuka Surah Al-Isra’.

Makna dan Hikmah Perjalanan Agung

  1. Penghormatan dan Pemuliaan: Penyebutan Nabi sebagai “hamba-Nya” (‘abdih) menegaskan kemuliaan beliau sebagai utusan Allah, sekaligus membedakan secara tegas antara sifat ketuhanan dan kehambaan.
  2. Menyambung Mata Rantai Risalah: Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha menyimbolkan penyatuan dan kesinambungan risalah seluruh nabi. Ini adalah deklarasi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penerus dan penutup para nabi sebelumnya.
  3. Dua Model Perjalanan: Isra’ Mi’raj adalah Rihlatut Tasyrif (perjalanan penghormatan) di mana semua fasilitas disediakan oleh Allah. Berbeda dengan Hijrah yang merupakan Rihlatut Taklif (perjalanan perjuangan) yang penuh perencanaan dan pengorbanan. Ini pelajaran berharga: meski kita percaya pada pertolongan Allah, kita tetap wajib berikhtiar maksimal dalam setiap usaha.

Mengenang Isra’ Mi’raj adalah Mengingat Masjidil Aqsha

Allah secara khusus menyebut Masjidil Aqsha sebagai tempat yang diberkahi sekelilingnya. Keberkahan ini meliputi aspek material (kesuburan tanah, air, dan letaknya) dan spiritual (immaterial). Di antaranya:

· Bumi Para Nabi: Palestina adalah tanah suci yang diinjakkan kaki banyak nabi dan rasul.
· Bumi yang Disucikan: Sebuah hadits menyebutkan tentang keutamaan negeri Syam (tempat Masjidil Aqsha berada):

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “الشَّامُ أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَالْمَنْشَرِ، وَعَيْشُ الْمَلَائِكَةِ بِأَكْنَفِهَا”

“Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Syam adalah bumi tempat berkumpul dan tempat dibangkitkan (manusia), dan para malaikat membentangkan sayap-sayapnya di atasnya’.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dinilai shahih oleh Al-Hakim)

Kepedulian terhadap Masjidil Aqsha dan penderitaan rakyat Palestina adalah bagian tak terpisahkan dari spirit memaknai Isra’ Mi’raj.

Refleksi Akhir: Oleh-Oleh Terbesar adalah Shalat

Hikmah terbesar yang dibawa Nabi dari perjalanan ini adalah kewajiban shalat lima waktu. Shalat adalah mi’raj-nya seorang Mukmin, sarana komunikasi spiritual langsung dengan Allah. Peringatan tahunan Isra’ Mi’raj hendaknya menguji tiga hal:

  1. Kekuatan Iman: Sudahkah kita beriman dengan sepenuh hati kepada segala yang ghaib?
  2. Kepedulian: Seberapa besar perhatian dan doa kita untuk Masjidil Aqsha?
  3. Kualitas Ibadah: Sudahkah shalat kita mencegah dari perbuatan keji dan mungkar?

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu melewati ujian keimanan ini dan konsisten mendirikan shalat.

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)

Share this post
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

More from the category

Featured articles

From our book shop