Ekstrakurikuler Mentoring
Ekstrakurikuler Mentoring (sering juga disebut Halaqah, Tarbiyah, atau Bina Pribadi Islami) di Pondok Pesantren seperti Yapidh 3 Sentul adalah “jantung” dari pembinaan karakter.
Berbeda dengan pembelajaran di kelas yang bersifat satu arah (guru menerangkan kepada banyak murid), Mentoring bersifat pendekatan personal dalam kelompok kecil.
Tujuan Mentoring
Tujuan utamanya adalah membentuk kepribadian Islam (Shakhsiyah Islamiyah) yang utuh pada diri santri.
Pemantauan Ibadah Harian (Monitoring): Memastikan santri tidak hanya mengerjakan ibadah wajib (sholat 5 waktu), tetapi juga konsisten dengan ibadah sunnah (sholat Dhuha, Tahajud, Rawatib, dan Dzikir Al-Mathurat).
Wadah “Curhat” dan Solusi Masalah: Menjadi ruang aman bagi santri untuk menceritakan masalah pribadi, kesulitan belajar, atau homesick (rindu rumah) kepada kakak pembina (Mentor/Murabbi) yang lebih dewasa, sehingga santri tidak merasa sendirian.
Mempererat Ukhuwah (Persaudaraan): Membangun ikatan emosional yang kuat antar anggota kelompok. Di sini santri diajarkan untuk saling peduli, menasihati, dan membantu teman satu kelompok layaknya saudara kandung.
Pembentukan Adab dan Akhlak: Mengoreksi perilaku santri secara langsung namun halus. Misalnya, bagaimana adab berbicara dengan orang tua, adab makan, hingga adab bergaul dengan lawan jenis.
Metode dan Konsep Kegiatan
Kegiatan ini biasanya dirancang dengan suasana yang Sersan (Serius tapi Santai) agar santri tidak merasa digurui, melainkan dibimbing.
A. Sistem Kelompok Kecil (Small Group)
Satu kelompok terdiri dari 10-12 santri.
Dipimpin oleh satu Mentor (biasanya Ustadz, Musyrif asrama, atau kakak kelas senior yang sudah terpilih).
Duduk melingkar (Halaqah) untuk menunjukkan kesetaraan dan kehangatan.
B. Materi yang Disampaikan
Materi mentoring tidak seberat pelajaran Fiqih atau Tafsir di kelas. Materinya lebih aplikatif dan menyentuh hati (Tazkiyatun Nafs), contohnya:
Pentingnya Jujur.
Bahaya Ghibah (menggunjing).
Manajemen Waktu.
Motivasi Menghafal Qur’an.
Kisah-kisah Sahabat Nabi.
C. Instrumen Kunci: Mutaba’ah Yaumiyah (Buku Kontrol)
Ini adalah ciri khas Mentoring. Setiap pekan, Mentor akan memeriksa buku/lembar Mutaba’ah Yaumiyah (Amalan Harian) santri.
Mentor bertanya: “Siapa yang minggu ini Tahajud-nya bolong?” atau “Siapa yang hari ini belum baca Al-Ma’tsurat?”
Tujuannya bukan untuk menghukum, tapi untuk evaluasi diri (Muhasabah).
Alur Kegiatan Mentoring (Rundown)
Biasanya berlangsung selama 60–90 menit, seminggu sekali (misalnya Jumat pagi atau sore hari).
Pembukaan:
Tilawah Al-Qur’an bergantian.
Kultum singkat dari salah satu santri (melatih bicara).
Evaluasi (Mutaba’ah):
Mengecek ibadah harian santri selama sepekan terakhir.
Menanyakan kabar dan kondisi kesehatan santri.
Penyampaian Materi (Taurih):
Mentor menyampaikan tema akhlak atau motivasi.
Diskusi dua arah.
Sesi Sharing (Qadhaya):
Membahas masalah aktual yang sedang terjadi di asrama atau isu remaja terkini.
Penutup:
Doa Rabithah (doa pengikat hati) dan saling bersalaman.
